Tuesday, April 3, 2012

93 Million Miles

Yap, seperti yang sudah ditebak, judul tulisan kali ini terinspirasi dari salah satu lagu dari Jason Mraz, 93 Million Miles. Ketika saya mencoba menghilangkan kebosanan setelah berkutat dengan bahan-bahan mengenai Bioteknologi menurut Hukum Lingkungan Internasional untuk bahan KTI Mawapres saya, tidak sengaja melihat di home page Facebook saya, Bang Ozak (one of AIYEP Alumni 2010) put this video of Jason Mraz singing 93 Million Miles on another alumni's wall. Dan saya tertarik dengan video tersebut setelah membaca comment mereka yang mengindentifikasikan bahwa video klip lagu tersebut telah sukses membuat mereka berdua yang sedang berada di Perth, Australia homesick.
Dan, yah jari saya pun mulai mengklik new tab, menelusuri youtube mencari video tersebut, dan Voila! video ini berhasil membuat saya jatuh cinta dengan lirik dan tune nya yang benar-benar incredible !!
Berikut video dan liriknya

Kemudian ingatan saya membawa saya hanyut kedalam perjalanan program AIYEP (Australia-Indonesia Youth Exchange Program) yang baru selesai 12 Februari lalu. Teringat masa-masa adaptasi dengan new places, new people, new things, etc. Yang membuat saya suka atau tidak suka harus deal dengan situasi yang tidak biasa saya hadapi selama di tanah air. Kerinduan akan senyuman dan masakan Ibu, guyonan dan perhatian Papa, Canda tawa bersama Mbak Dian, Cici dan Fattah, suasana sibuk dan hecticnya Medan, kesibukan dikampus dan organisasi, terkadang membuat saya ingin segera cepat selesai dari program dan yah come back home..

Namun, setelah program selesai, keinginan untuk kembali ke Australia semakin menguat hingga membuat saya mengubah peta hidup 5 tahun kedepan, yang awalnya membuat AMINEF Fulbright sebagai next destination dan sukses membuat saya yakin menolak tawaran beasiswa dari Asia Foundation untuk melanjutkan s2 di Washington University which is highly respected University in West Coast demi mendapatkan ADS (Australian Development Scholarship) di ANU (Australia National University).

Mungkin inilah yang disebut "HOME", Australia seperti rumah kedua bagi saya. Meski selama tinggal disana tidak semua berjalan sesuai rencana dan keinginan namun setidaknya lebih banyak hal yang membuat saya jatuh cinta dan merasakan terikat secara literally dengan negara kangguru ini.

Namun, yang membuat saya mencintai Australia yah AIYEP sendiri, orang-orang didalamnya, baik peserta Indonesia dan Australia telah membuat saya mencintai mereka with all of me. Dan bagi saya selain rumah yang saya tinggal bersama keluarga di Medan, Indonesia. Australia, terkhusus Adelaide dan Kangaroo Island seperti rumah kedua bagi saya, rumah dimana saya bisa pulang kapanpun saya mau, dengan AIYEP sebagai keluarga saya yang akan menyambut saya kapanpun saya kembali.

Im so blessed to be a part of AIYEP big family :)

Dan, suatu saat ketika saya menjejakkan kaki ke tempat-tempat baru lagi, ribuan mil dari rumah, dari keluarga, dari tanah air, mungkin saya mencintai tempat-tempat tersebut namun "HOME" akan selalu berada dihati dan tidak akan pernah terganti, dan berjanji suatu saat saya akan kembali lagi dengan hati yang tak pernah terbagi...


No comments:

Post a Comment