Thursday, July 11, 2019

Diary of Diplomat's Wife : Bertumbuh di New York City

Sudah hampir setahun kami sekeluarga tinggal di New York City sejak penugasan suami awal Agustus 2018 lalu. Kota yang disebut tak pernah tidur ini menjadi saksi bertumbuhnya keluarga kami. Keluar dari zona nyaman masing-masing. Ketika meninggalkan tanah air, anak kedua kami baru berusia 3 bulan, kecil sekali ia sudah terbang 16,167km dengan durasi perjalanan dua hari di udara. 

Awal-awal adaptasi sungguh berat. Perbedaan waktu 12 jam, mencari tempat tinggal 3 tahun kedepan, mengurus rumah, suami dan dua anak yang masih kecil tanpa asisten rumah tangga. Kehidupan di Jakarta dulu sepertinya telah memanjakan kami, asisten rumah tangga 24 jam, go-jek, penjual aneka makanan di simpang rumah, segala kemudahan fasilitas untuk keluarga muda tersedia di ibu kota.

Tapi disinilah ternyata keluarga kami bertumbuh. Disini kami diajarkan untuk lebih kuat dan saling mendukung satu sama lain. Suami tidak pernah mengeluh mengulurkan tangan membersihkan rumah sehabis pulang kerja. Setibanya dirumah ia langsung melepas sepatu dan jasnya, masih menggunakan kemeja kerja dan dasi, tangannya sudah ringan membersihkan mainan anak-anak dan menyapu rumah. Saya pun tidak pernah menyangka bisa memasak berbagai panganan indonesia, mulai dari mie ayam, ketoprak, gulai kepala ikan, rendang, bahkan berbagai makanan internasional seperti steak yang rasa dan teksturnya mirip dengan yang di restaurant. Dulu, masuk dapur saja hanya untuk masak MPASI anak pertama kami. Meski selalu mengandalkan resep dari google, setidaknya rasanya cukup membuat suami memuji berkali-kali.

New York City pada dasarnya seperti kota yang menampung banyak mimpi orang-orang. Gedung-gedung tinggi di Manhattan menawarkan berbagai opportunities dan hiburan bagi siapa saja yang datang. Namun, menjadi Ibu dari dua orang anak yang masih kecil tanpa asisten di rumah tampaknya bukanlah opsi yang tepat untuk juggling di antara gedung-gedung tinggi Manhattan seorang diri. 

Sebenarnya bisa saja, jika mau berurusan dengan fasilitas publik yang tidak family friendly. Berbeda dengan Belanda atau negara maju di Eropa yang pada umumnya menyediakan moda transportasi ramah anak. New York City punya cara yang membuat para orang tua dengan lebih dari satu anak kecil mengurungkan niatnya berpergian dengan transportasi umum. Sebut saja disini, stroller sebelum masuk kedalam bus harus dilipat dan ditaruh dibawah kursi. Bayangkan, jika membawa dua anak kecil seperti saya dengan tandem stroller. Pernah dulu ketika awal kedatangan kesini kami tidak tahu peraturan tersebut, supir bus yang juga seorang perempuan memarahi kami dengan nada tinggi untuk melipat stroller sebelum masuk kedalam bus. Benar saja, itu adalah kali pertama dan terakhir kami naik bus. Stasiun Subway pun tak jauh berbeda. 

Percayakah jika saya katakan stasiun Subway di New York City jauh lebih kotor dibanding stasiun kereta di Jakarta? Dimana-dimana bau pesing, terutama lift, kami harus menahan napas setiap kali memakai lift stasiun subway, tapi bagaimana lagi kami tidak punya opsi untuk menggunakan tangga karena membawa tandem stroller. Tidak semua stasiun Subway menyediakan lift, hampir semuanya merupakan lobang-lobang subway yang menggunakan tangga. Maka, untuk Ibu dari dua anak kecil, opsi berpergian menggunakan moda transportasi umum bukanlah pilihan yang bijak. 

Kenapa tidak menyetir mobil sendiri saja? Sayangnya dulu saya sempat belajar menyetir manual di Indonesia, tapi tidak pernah membuat SIM, jadilah disini saya tidak bisa mendapatkan SIM negara setempat.  Bagaimana dengan naik uber? Nah, uber bisa menjadi salah satu opsi tapi mungkin tidak bisa sering-sering digunakan karena harganya juga cukup mahal. Jangan disamakan dengan harga uber di Indonesia, disini sekali jalan misal dari Queens ke Manhattan jika dirupiahkan bisa mencapai hampir sejuta. Maka, opsi yang bijak adalah pergi dengan suami setiap weekend menggunakan mobil pribadi kami. Selain lebih aman dan nyaman, ada bantuan tangan lain yang memegang anak. Sesekali juga jika suami bekerja dan saya mau berpergian ke suatu tempat/acara ada teman-teman baik hati yang bisa membantu menggotong-gotong stroller dan bergantian menggendong si kecil. 

Tinggal di kota dengan populasi terpadat di Amerika memang merupakan tantangan tersendiri. Namun, tiap tempat ada kelebihan dan kekurangannya. Hal yang paling saya sukai dari New York City adalah keragaman yang ditawarkan. Hampir seluruh warga negara dari berbagai negara di dunia dapat ditemui di sini. Tak heran jika New York City dijuluki sebagai Ibu Kota Budaya, Finansial dan Media se-dunia. Having said that, New York City bukanlah kota dengan penduduk yang ramah. Berbeda dengan Belanda yang meninggalkan kesan yang sangat dalam di hati saya dengan penduduk yang ramah  dan senang membantu. Di sini adalah pemandangan yang biasa menghadapi kasir yang jutek, pegawai toko yang membentak customer, namun anehnya mereka punya kebiasaan menegur dan menanyakan kabar meski memang lebih kepada basa-basi dan kebiasaan setempat. Jadi tak heran jika kasir di sebuah toko bertanya "Hi, how are you today?" dengan kepala menunduk tidak melihat pembelinya sama sekali. Biasanya si customer pun akan menjawab sekedar.

Begitulah sekilas kehidupan di New York City di mata saya. Semoga dalam waktu dekat keadaan semakin membaik, keluarga kecil kami saat ini masih beradaptasi, jauh dari tanah air, jauh dari sanak saudara. Semoga Allah selalu melindungi langkah-langkah kaki kami di negeri Paman Sam ini. Selanjutnya insyaAllah saya akan rutin membagikan tulisan mengenai kehidupan kami di New York City. Seringkali apa yang kita lihat dari luar tak selamanya indah. Yang paling penting dalam menjalani kehidupan adalah mensyukuri apa yang kita punya saat ini.

    Image Source : harpersbazaar.com


New York, 
July 10, 2019