Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts
Showing posts with label Refleksi Diri. Show all posts

Wednesday, May 15, 2013

Remembering Allah Means...




Remembering Allah does not mean you would
pray on time and do lots of Dhikr for Allah
while ignoring other aspects of life.


Remembering Allah means you are happy
with whatever Allah has blessed you- no
matter how much something cuts your heart
like knife.

Remembering Allah means when your heart
cries, you know Allah is going to make you
smile soon.

Remembering Allah means when the duniya
tries to shatter you and you always face those
carefully saving you from the atmosphere of
doom.

Remembering Allah means you believe the
pain that you got is soon going to be
replaced with something better by Allah
which would make you so much happier.

Remembering Allah means no matter how
worse situations become- the best news of
being with all those people and things you
love without any pain is near.

Remembering Allah means you can see in
your heart the most perfect place Jannah
where perfectness is defined by happiness.

Remembering Allah means you know what
you lost, you are soon going to find it with
nothing less.

Remembering Allah means believing with
patience that this "soon" is the Jannah where
all your tears would come back to you smiling.


Remembering Allah means you know the land
of eternal brightness- a place of happiness
which all your beautiful sacrifices and
patience are going to bring.

Remembering Allah means no matter how
many times your dreams break into pieces,
you would always be thankful toward Him
with strong faith.

Remembering Allah means separating the
Haram from Halal so that the only barrier that
would come between you and your paradise
is death.

* So when you want something and you get
it, you should remember Allah in this way.

* and when you don't get it you should still
remember Allah thanking Him all the time of
night and day.

Zb.

Friday, March 22, 2013

"Hidup Itu Pilihan"

Menjadi mahasiswa semester akhir itu ada senang ada juga sedihnya, senangnya mata kuliah yang diikutin sudah mulai berkurang, sedihnya skripsi yang ga kelar2 mulai menghantui tiap malam, dan tidak jarang terbawa mimpi (kebiasaan saya kalau ada sesuatu yang belum selesai pasti dipikirin sampai larut2 dan walhasil terbawa mimpi)--"

Tadi malam saya mengecek email dan ternyata ada email dari Kedubes Australia di Jakarta (Program AIYEP yang saya ikutin karena bekerja sama langsung dibawah Kementerian Luar Negeri Australia maka pihak pemerintah Australia terus memfollow-up para alumninya, sehingga hubungan kerjasama tidak terputus begitu saja) isi emailnya mengenai Australia Awards Scholarship atau yang dulu dikenal sebagai ADS. Pendaftaran sudah dibuka dan ditutup Juli ini, banyak alumni AIYEP yang kembali ke Land Down Under lewat jalur beasiswa ini. Begitu saya melihat email tersebut, langsung kegalauan menghantui. Gimana ga galau coba, bulan juli itu saya belum tamat dan saya masih dalam proses sidang skripsi (inshAllah, Amin) dan akan di wisuda paling cepat bulan Agustus. Itu artinya, saya tidak bisa meng-apply untuk scholarship periode 2014 ini. Karena jika saya mau apply, maka saya baru bisa meng-apply di tahun 2014 untuk keberangkatan tahun 2015. Galau pun semakin bertambah mengingat semester ini harus menjadi semester terakhir saya, itu artinya 19 sks yang masih saya ambil tidak boleh ada yang gagal. Jika tidak, saya akan semakin lama tamat, dan semakin lama S2 dan semakin lama menikah dan akhirnya saya harus rela mendengar ceramahan ibu saya di tahun2 usia saya semakin menua. Kebiasan saya yang selalu membuat plan hidup membuat saya semakin galau tingkat ASEAN, lol.

Mengapa saya bisa begitu lama tamat? well, sebenarnya masih dalam waktu normal, 4 tahun, meski meleset dari plan awal saya, yaitu 3,5 bulan. Jawabannya adalah Program AIYEP yang saya ikutin 2011 lalu, program ini berlangsung selama 5 bulan, dimana saya yang masih berstatus mahasiswa semester 5 dan harus rela mengambil PKA alias cuti kuliah selama 1 semester. Tapi mengutip dari PD3 Fakultas saya, beliau mengatakan "Hidup itu pilihan, Maulida". Yah, ketika itu memang saya harus memilih dan saya memilih tamat lebih lama daripada melewatkan kesempatan yang tidak semua pemuda di Indonesia mendapatkan kesempatan ini. Maksudnya setiap orang bisa keluar negeri, bisa ke Australia, baik dengan uang sendiri maupun beasiswa sekolah, namun hanya 18 pemuda tiap tahunnya (dalam kurun waktu 31 tahun belakangan ini) yang berkesempatan sebagai duta bangsa mewakili Indonesia di negeri kangguru tersebut. Pengalaman dan status yang diemban juga berbeda.

Dan program ini juga yang membuat nama saya sedikit dikenal para Dekanat di fakultas (meski sebelumnya sudah dikenal, ahem) hingga pihak rektorat. Untuk dekanat pastilah tahu, karena kan saya minta izin PKA melalui dekanat, namun untuk rektorat saya tidak pernah memberitahu apapun, dan terakhir saya tahu ternyata Dekan, PD2 dan PD3 saya yang "menyebarkan gosip" ini hingga ke Rektor, terima kasih banyak Pak buat promosinya, haha XD

Maka, begitu saya kembali dari program tawaran kompetisi nasional yang membutuhkan kemampuan bahasa inggris bahkan hingga mewakili universitas di luar negeri mulai berdatangan, ketika anggota satu tim saya yang lain di seleksi terlebih dahulu, saya langsung dipilih tanpa proses seleksi (kok kedengerannya ga adil yah? haha) dan beberapa kali dipilih menjadi ketua tim untuk mewakili kampus.

Benar, program ini ibarat batu loncatan bagi saya, dosen-dosen di fakultas juga sering kali memberi ekspektasi tinggi. Contoh ketika kompetisi Debat Mahkamah Konstitusi, saya ditawari seorang dosen untuk menjadi salah satu tim debater dan tahun berikutnya beliau juga masih menawari saya. Mungkin anggapan banyak orang bahwa orang yang pernah mendapat beasiswa keluar negeri melalui sebuah rangkaian tes yang lumayan panjang menguasai segalanya. Mungkin yah berlaku bagi beberapa orang, seperti senior-senior saya yang mempunyai kemampuan otak diatas rata2. Namun, tidak bagi saya, saya yang mengambil jurusan hukum internasional, yah jagonya di situ saja, kalau sudah masuk ranah hukum lain tidak sebegitu ekspert, apalagi hukum tata negara.

Program ini juga yang buat saya agak sedikit lebih terkenal di kampus karena beberapa dosen lumayan gencar menyebut2 nama saya di kelas2 adik junior, akhirnya masa itu datang juga, masa dimana nama saya yang disebut menggantikan nama-nama senior saya yang dulu paling sering disebut2 dosen sebagai mahasiswa yang patut dicontoh. Yah, meski saya masih ketinggalan jauh dibanding mereka, setidaknya saya "berlari" di lapangan yang sama *menghibur diri sendiri haha

Dan kemarin juga seorang dosen setelah selesai mengajar kuliah ketika saya hampir meninggalkan kelas beliau, saya dipanggil, ternyata beliau sedang dalam proses pengajuan program research di Leiden Universiteit, Belanda. Beliau kemudian menunjukkan saya proposal research yang akan beliau ajukan dan meminta pendapat saya apakah proposal tersebut bagus atau tidak. Kontan saya terkejut, I meant saya ini tamat S1 saja belum bagaimana bisa dimintai pendapat untuk memeriksa proposal yang diajukan seorang doktor. weleh, weleh, tapi untuk menghargai sang dosen atas kepercayaan terhadap saya, maka saya pun membaca skimming dan kemudian meyakinkan beliau bahwa proposal tersebut sangat bagus. Well, proposal tersebut memang bagus,  menurut saya idenya orisinil dan aplicable. Di akhir beliau minta tolong saya membantu beliau mengkoreksi terjemahan bahasa inggrisnya dan langsung saya iyakan sebagai balasan atas ilmu beliau, halah haha.

Intinya yah, memang tanpa program tersebut kehidupan mahasiswa saya mungkin tidak akan semulus dan sebaik sekarang ini, jadi seperti kata PD3 saya yang selalu mensupport saya dalam banyak hal "Hidup itu pilihan, Maulida". Saya telah memilih, maka saya telah bersedia untuk menerima kebaikan dari pilihan saya begitu juga dengan konsekuensi2 yang harus saya hadapi kedepannya. Biarlah lama tamat asalkan berkualitas, asiik.

At the end, menyerahkan segalanya kepada Sang Maha Perencana adalah jalan paling terbaik dan paling teraman untuk saya tempuh. Semoga rencana yang saya susun berjalan lancar dan diridhoi Allah, jika pun berubah, saya yakin rencana Allah lebih baik dari rencana maupun mimpi yang saya tuliskan... "Allah knows, while you may know not"


Saturday, March 31, 2012

Siapa dan Apa yang Kau Cari? (Episode : Pernikahan)


(Tulisan Lama dari Account Facebook Saya, Semoga Tak Usang Dimakan Zaman dan Bermanfaat)

Nasehat ini sering saya berikan ke adik bungsu saya sejak dia menginjak usia remaja, namun pagi tadi terbersit di fikiran untuk membaginya kepada adik-adik luar biasa saya yang lainnya.. Meski dirasa terlalu dini, namun rasanya hal seperti ini sudah pantas untuk diketahui adik-adik saya yang mulai beranjak dewasa..

Adikku, Ketika engkau dewasa nanti, ketika engkau mulai berfikir untuk mencari sandaran hatimu, siapakah yang kau cari?

Seorang wanita dengan paras yang cantik? Duhai, adikku, jika ini yang kau cari maka kau dapat menemukannya dengan mudah, di sekolah, kampus, bahkan jalan raya.. Mereka tersebar dimana-mana, dengan hiasan yang memukau, busana yang mengundang, tutur kata yang menggoda, dan senyum yang menawan.. Jika ini yang kau cari, maka jangan marah jika kukatakan engkau mengalami kerugian besar. Karena fisik tidaklah kekal, siapa yang dapat menjamin paras cantiknya tetap ada hingga esok hari? Apa yang terjadi jika Allah memberinya musibah hingga kehilangan kecantikannya? 5, 10, 20 tahun, apakah kau akan melihat fisik yang sama seperti engkau pertama kali mengenalnya? Tidak.. karena kukatakan sekali lagi fisik tidaklah abadi..

Atau kau mencari seorang wanita cerdas? Adikku, bagaimana definisi cerdas menurutmu? Apakah Seseorang dikatakan cerdas ketika ia mampu mengerjakan ribuan soal matematika dan fisika dengan cepat dan benar atau seseorang yang menguasai lebih dari dua bahasa dengan lancar? Jika itu yang kau cari, maka engkau akan mudah menemukannya, dimana saja. Dan bukan suatu hal yang sulit bagimu mendapatkan satu dari miliaran wanita cerdas di dunia ini.

Atau Kau mencari seorang wanita kaya? Sehingga dengannya engkau tak perlu memikirkan persoalan ekonomi yang sulit nantinya? Sama seperti kecantikan duhai adikku, harta pun tak pernah abadi, ia bisa diambil Allah kapan saja, karena sejatinya harta yang dimilikinya bukanlah miliknya sesungguhnya, namun milik Allah semata. Lalu, apa yang akan terjadi jika esok Allah akan mengambil semua miliknya?

Mendapatkan seorang wanita yang mencintaimu karena fisikmu adalah hal yang biasa,
Mendapatkan seorang wanita yang mencintaimu karena kecerdasanmu adalah hal yang biasa.
Mendapatkan seorang wanita yang mencintaimu karena hartamu adalah hal yang biasa.

Namun, mendapatkan seorang wanita yang menerima fisikmu yang apa adanya adalah hal yang luar biasa.
Mendapatkan seorang wanita yang menerima ketidakcerdasanmu dalam beberapa hal adalah hal yang luar biasa
Mendapatkan seorang wanita yang menerima kekurangan materimu, dan bersedia memulai dari awal bersama mu adalah hal yang luar biasa.

Carilah seorang wanita dari segi akhlak dan agamanya..

Jika kau menemukannya suatu hari nanti, jangan ajak ia untuk berpacaran, karena pacaran tidak pernah ada dalam kamusnya, namun ajaklah ia menikah karena hanya itu solusi yang ada difikirannya. Dengan itu ia menilai sikapmu, keberanianmu, dan tanggungjawabmu..

Jangan pernah berusaha untuk menyentuhnya karena ia seorang yang tidak tersentuh, ia menjaga dirinya dari sentuhan yang bukan mahramnya, menjaga pandangannya dari apa-apa yang tidak halal baginya, menjaga suaranya sebagai tanda ia menarik garis tegas antaramu dan dia..

Karena ia melakukannya demi dirimu, calon pendampingnya kelak, siapapun dia, ia tidak peduli, karena yang paling penting baginya hanya akhlak dan agama yang dinilai, pangkat, harta dan jabatan tidak bernilai dimatanya.. Ia akan menerima jika engkau bukanlah seorang berpangkat tinggi, berharta banyak, dan memegang jabatan penting, dan ia akan bersyukur jika engkau memiliki salah satu dari tiga hal tersebut sebagai tambahan karunia Ilahi baginya, karena sekali lagi kukatakan akhlak dan agamamu lah yang dinilainya dan bukan segala hal yang kau miliki di dunia ini..

Wanita ini memiliki segala kesempurnaan, parasnya cantik karena selalu tertutupi oleh hijab ketakwaan, tak pernah sedikitpun ia rela jika sehelai rambutnya dilihat oleh yang bukan mahramnya, tak pernah sedikitpun ia rela jika setiap sudut lekuk tubuhnya dapat diamati dengan yang bukan mahramnya, karena ia begitu cantik, hingga Allah pun mencintainya..

Kecerdasannya luar biasa ia mampu menyelesaikan masalah dengan baik, menyikapi kehidupan dengan bijak, menyadari kesalahan dengan cepat. Ia akan mencintaimu dengan tulus, memahami sikapmu dengan baik, mematuhi perintahmu dengan ikhlas, dan mendidik anak-anakmu dengan luar biasa, kau tahu kenapa ia mampu melakukan semuanya? Karena ia punya buku petunjuk luar biasa ditangannya, yakni Quran dan Hadits..

Kekayaannya begitu melimpah, ia memiliki begitu banyak stok kesabaran ketika berusaha memahami sikapmu yang tidak disukainya, begitu banyak stok keikhlasan ketika hanya sedikit harta yang diterimanya darimu, begitu banyak stok kasih sayang ketika ia merawatmu dan anak-anakmu.. Ia rela tidak tidur hingga engkau memaafkan kesalahannya, ia rela menahan kantuknya hanya demi membukakan pintu dan membuatkan secangkir teh ketika engkau pulang larut, ia rela ketika hanya senyuman yang ia dapatkan dihari ulang tahunnya karena ia faham bahwa engkau telah berusaha menafkahinya dengan baik meski sedikit yang kau beri.

Kau tahu kenapa Ia Begitu “Sempurna” ? Karena Ia bidadari dunia yang Allah anugerahkan kepadamu, untuk engkau didik ia dengan cintamu, untuk engkau lindungi dengan kelembutan, untuk engkau cintai ia dengan sepenuh hatimu..

Namun, sayangnya wanita ini tidak begitu banyak diciptakan Allah, mereka bagai satu diantara seribu, mendapatkannya begitu sulit bagai mencari jarum ditumpukan jerami, untuk meraihnya kau pun harus melakukan usaha yang tidak sedikit dan mudah..

Syaratnya begitu banyak, namun tidak begitu sulit jika engkau ikhlas mengerjakannya.. Allah akan menganugerahimu satu diantara ribuan bidadari dunia ciptaanNya, hanya dengan akhlak dan agamamu sebagai harganya..

Karena kualitasnya begitu tinggi hingga engkau pun harus menyesuaikan kualitasmu agar setara dengannya, bukan kualitas fisik, harta dan kecerdasan, namun kualitas akhlak dan agamamu.. maka jika engkau ingin mendapatkan seorang bidadari dunia, mulailah perbaiki dirimu, tingkatkan akhlak dan imanmu sehingga kualitasmu akan setara dengannya, hingga Allah pun yakin untuk mempercayakan bidadari dunia tersebut kepadamu..

Namun, sekali lagi kuingatkan duhai adikku, luruskan niatmu untuk melakukannya demi Allah dan bukan demi mendapatkan bidadari duniaNya semata.. karena untuk mendapatkan cintanya kau harus memperoleh cintaNya terlebih dahulu..

Selamat Mencoba dan Berjuang, Kutunggu kabarmu mendapatkan bidadari dunia suatu hari nanti ..



Salam Cinta
Kakakmu

Maulida Hadry Sa'adillah
(Doakan semoga ia juga termasuk sebagai bidadari duniaNya)



Aku Takut...


Another Old Note From My Facebook Account

Segelas cappucino habis sudah kutenggak malam ini. Seisi rumah sudah terbawa ke alam mimpi masing-masing, sedang aku baru saja bangun satu jam lalu, mencoba merilekskan saraf-saraf diotakku untuk kembali difungsikan. Menggunakannya untuk membaca, mengkaji, mengomentari belasan lembar putusan pengadilan niaga berisi gugatan sebuah perusahaan ternama. Kasus beberapa tahun silam. Buku-buku hukum, Kitab Undang-undang bertebaran dengan "manis" disekelilingku. Nasyid mengalun lembut dari speaker. Ehm, sekarang "Keluarga Bahagia" dari saujana terdengar, Salah satu favoritku. Lalu kemudian berganti dengan surah Al-lail, subhanAllah benar-benar menenangkan..

Lagi-lagi kekosongan itu kurasakan malam ini, entah karena memang malam yang sepi membuatku merasa kosong atau memang hati dan fikiran ini mulai kambuh lagi. entahlah, yang penting aku hanya ingin menulis malam ini.

Pernahkah kau merasakan kehilangan Allah dalam hatimu?
Pernahkah kau merasa hatimu tidak merasakan getaran ketika nama Allah disebut?
Pernahkah kau merasa biasa saja ketika kau berbuat dosa?
Pernahkah kau merasa sujud panjangmu tak lagi bermakna?

Malam ini ketakutan itu begitu menyergapku, aku takut, takut sekali merasakan hal tersebut. Aku takut ketakutanku kepada Allah lenyap. Aku takut ketika aku membutuhkan pertolongan bukan Allah yang kupinta. Aku takut suatu hari nanti bukan namaNya yang membuat hatiku bergetar. Aku takut tak merasakan kehadiranNya menyaksikanku ku berbuat dosa. Aku takut sujud-sujud panjangku bukanlah momen yang paling kunanti. Saat-saat ku bercengkrama denganNya bukan lagi prioritas. Aku takut....



"Rabbi, tetaplah disini, tetaplah berada lebih dekat dari urat leherku. Biarkanlah hanya kekuatanMu yang menguatkanku. Jadikanlah hanya cintaMu yang mengisi kekosongan hatiku. Izinkanlah hanya namaMu yang membuat hatiku bergetar. Biarkanlah begini Rabbi, Biarkanlah sujud-sujud panjang itu menjadi saat-saat yang paling kunanti. Pertemuanku denganMu menjadi saat yang paling kurindukan. Karena ketika seluruh manusia didunia ini meninggalkanku lebih baik daripada Engkau meninggalkanku yaa Rabbii, walau hanya sedetik..."

"Tuhanku janganlah kau menjauh, Hatiku selalu rindu tuk bertemu denganMu. Janganlah hilangkan cintaMu dalam hatiku. Janganlah hilangkan kasihMu dalam jiwaku." (Maidany)

Fii Ardhillah, Bumi Allah
1 Muharram 1432 H/ 8 Desember 2010 M
When I Feel The Fear of Losing You Too Much

Aku Jatuh dan Aku Bangkit Dalam Sekejap


Tulisan ini lagi-lagi adalah hasil "goresan pena" yang sudah lama di publish di account facebook saya. Ketika menulis ini hati saya memang sedang hancur, namun saya berhasil bangkit lagi, dan 2 tahun setelah tulisan ini dibuat, saya menyadari ternyata benar, Allah punya rencana yang lebih baik lagi buat saya.. 

Lagi-lagi aku dihadapkan pada situasi yang membuatku menangis.. Yah, Aku terjatuh hari ini. Jauh.. terhempas ketika tali yang seharusnya kuyakin telah terikat dengan kuat ternyata masih membuatku jatuh. Dan aku kesakitan, sangat begitu kesakitan hingga air mata tak dapat kubendung, Ia mengalir begitu saja, tanpa kupinta, tanpa kuingin.

Apakah simbol yang kupakai ini membuat mereka memandangku rendah? atau karena simbol yang kupakai ini membuat mereka takut aku mengubah dunia? Dunia yang telah mereka ciptakan dengan kuasa mereka di tanah kontroversial. Dan simbol ku ini mungkin bisa menghancurkan dan mengganti dunia mereka dengan dunia versiku?

Jika memang begitu, kupersilahkan mereka untuk mendepakku dari tataran sistem yang mereka ciptakan, karena aku konsisten untuk tetap menjunjung tinggi simbolku, meski aku dibuang dan dianggap tak ada.

Aku sudah terlalu sering terjatuh, dan aku selalu berhasil untuk bangkit lagi. Semakin ditekan aku akan semakin kuat. Ibarat sebuah keramik yang terbuat dari tanah liat, semakin lama ia dipanaskan dengan api maka semakin kuat dan sulit ia dihancurkan.

Aku selalu bertindak sebagai motivator bagi yang lain, lalu mengapa aku tak bisa bertindak sebagai motivator bagi diri sendiri?

Aku yakin Allah menyimpan rahmatnya dibalik musibah yang kuterima. Ia memberikan kesusahan agar aku bisa siap ketika menghadapi kesuksesan yang lebih besar dimasa depan. Agar aku menghargai setiap perjuangan yang telah kulewati. Agar aku tetap meminta kepadaNya, karena mungkin Ia tahu jika Ia berikan aku kesuksesan hari ini aku akan berhenti memohon kepadaNya. Dan aku tahu Ia tak suka itu..



Ketika seorang kafir berdoa dan memohon, Allah berkata kepada Jibril :"Wahai Jibril tunaikanlah segera apa yang dimintanya, karena aku benci mendengarnya memintaku".
Dan ketika seorang mukmin berdoa dan memohon, Allah berkata kepada Jibril :" Wahai Jibril jangan kau tunaikan dulu keinginannya, tahanlah, sungguh aku menyukainya meminta kepadaku" (Hadits Qudsi)

Fii Ardhillah, Bumi Allah
3 Muharram 1432 H/10 Desember 2010 M
When I fell down and I got up again for second


Aku Menulis Karena Aku Tahu Aku Akan Mati


Tulisan ini adalah tulisan yang sudah lama saya tulis dan publish di account facebook saya, semoga menjadi pengingat bagi saya khususnya dan bagi pembaca pada umumnya..

Aku terdiam, kembali membaca kata-kata yang tertulis dihadapanku, otakku berusaha mencerna, mengirimkan pesan-pesan yang dibaca abstrak oleh hatiku. Benarkah? Nyatakah? Bahwa seorang penulis yang sangat kukagumi telah meninggal dunia?
Seorang penulis yang selalu berhasil membuatku menangis sesegukan setiap membaca karya-karyanya mengingatkanku dengan setumpuk dosa yang telah kulakukan selama hidupku.
Seorang penulis yang selalu berhasil membuatku tersenyum simpul malu karena terbawa angan memiliki seorang pendamping berwajah teduh berhias wudhu padahal usiaku ketika itu barulah enam belas tahun.
Seorang penulis yang selalu berhasil membuatku terguguh, menyadarkanku untuk selalu bersyukur bahwa Allah telah memberikanku segalanya dan berhenti untuk menuntut.

Otakku kemudian memberi perintah untuk membuka laman salah satu mesin pencari dunia maya, lalu mengetikkan sebuah kata kunci dan kulihat sebuah judul artikel yang membuatku semakin yakin bahwa kabar itu benar adanya “Nurul F Huda Menulis Hingga Detak Jantungnya Berhenti”. Disana tertulis bahwa beliau meninggal akibat kelainan jantung yang telah beliau idap dari kecil dan infeksi paru. Disana juga dituliskan sepenggal kutipan dari buku terakhirnya yang akan turun cetak dengan judul yang seolah menjadi sinyal perpisahannya “Hingga Detak Jantungku Berhenti”. Bercerita tentang bagaimana pisau bedah kecil namun tajam itu merobek kulitnya, menyayat tepat dijantungnya, hingga bagaimana jantungnya menyesuaikan diri dengan katup barunya yang kerap berbunyi “Thik..Thik..Thik..” dan semakin menyeramkan bila terdengar dimalam hari.

Hanya membaca penggalannya saja telah mampu membawaku kembali sadar bahwa begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan kepadaku selama ini, apalagi membaca seluruh tulisannya secara utuh. Tulisan yang diprediksikan akan berhasil menguras air mata para pembacanya karena buku itu benar-benar menggugah nurani yang selama ini lebih banyak mengeluh dan menuntut lebih, daripada bersyukur.

Aku begitu terkejut dan sedih, Ummat hari ini telah kehilangan salah satu penulis hebat yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bergumul bersama kertas dan pena atas nama cinta, atas nama dakwah. Namun kemudian aku tersadar, Allah begitu mencintainya hingga Allah tak ingin menunda pertemuan dengannya lebih lama lagi. Ketika sang kekasih telah bertemu dengan Kekasih sejati lantas apa yang harus ditangisi?

Aku menelusuri rak-rak perpustakaan miniku, kembali mencari buku-buku yang ditulisnya. Tersenyum ketika sekilas membaca bukunya “La Tansa Male Café”, sebuah buku yang mengisahkan beberapa pemuda yang mencoba menjadi enterpreneur dengan merintis café yang hanya khusus diperuntukkan bagi kaum Adam. Menginspirasiku untuk suatu saat nanti memiliki usaha yang sama hanya bedanya café “mimpiku” dikhususkan untuk mereka yang cantik dan bukan yang tampan. Membuatku semangat untuk mengisi pundi-pundi berwujud buku saldo untuk mewujudkan mimpi yang masih berupa coretan hitam diatas putih itu.

Lalu terbawa haru ketika membaca kembali bukunya yang berjudul “Menjemput Bidadari”. Sebuah buku yang bercerita tentang seorang suami yang divonis menderita azzospermia, ketidakmampuan tubuh dalam menghasilkan sperma. Yang lalu kemudian mengikhlaskan sang istri tercinta untuk menikah lagi, merajut mimpi lagi akan lahirnya anak-anak yang lucu dari rahimnya sendiri dan bukan adopsi. Sedang ia sendiri menyiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Maha Pecinta, menjadi syaheed dibumi yang berlumur darah para syuhada lainnya.

Begitu mengharu biru, begitu tulus, begitu indah mengalir ia menguraikan cerita. Tak jarang buku-bukunya mengubah paradigmaku berfikir, menciptakan bayangan indah pria sholih dengan keteduhan wajah yang kelak akan menghabiskan separuh hidupnya denganku. Dan memacuku untuk terus menaikkan kualitas diri sehingga pemilik tulang rusuk yang darinya kutercipta pun memiliki kualitas diri yang baik di hadapan Allah. Sebab pasangan hidup adalah refleksi dari diri pribadi, semakin baik kualitas diri maka semakin baiklah kualitasnya, sebaliknya semakin buruk kualitas diri maka semakin buruklah kualitasnya. Namun disisi lain tulisannya membuka tabir dibalik keindahan pernikahan itu sendiri, seperti ia menuliskan sebuah kisah tentang keegoisan suami yang menuntut sang istri memiliki keturunan yang banyak sedangkan kesehatan istri yang mengidap kelainan jantung tak memungkinnya untuk itu. Menyadarkan pembaca bahwa pernikahan tak selamanya indah bak dongeng negeri seberang. Dan bagaimana memecahkan permasalahan dengan tetap berada di koridorNya lah yang berusaha ia hadirkan disetiap tulisannya.

Kabar duka cita ini kembali menyadarkanku bahwa selama ini aku telah banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Menghentakkan diriku cukup kuat bahwa kematian sesungguhnya lebih dekat dan pasti dibanding pernikahan atau hal masa depan lain yang belum pasti.

Membangunkanku dari tidur panjangku selama ini. Aku yang mungkin dulu lebih membuka telinga dan lebih peduli mendengar pendapat manusia tentangku dan menutup hati dan mengacuhkan pandangan Allah terhadapku. Aku benar-benar terbuai dengan pujian-pujian yang keluar dari mulut-mulut manis itu, yang tanpa kusadari membawaku melambung tinggi yang bukannya membuatku bersyukur malah membuatku menjadi mahkluk yang tinggi hati dan senang bersombong diri. Sedang kereta ini terus berjalan membawaku menuju terminal akhir depa demi depa hingga Izrail menyambutku dipintu kereta dan membawaku ke dunia lain, dunia yang abadi dimana tidak ada naungan selain naunganNya.

Dan terdengar suara-suara berbisik kepadaku namun cukup jelas untuk kupahami,
“Lalu apa yang selama ini kau cari, Maulida?”
“Apa yang kau kejar didunia?”

Hari ini aku belajar suatu hal tentang kehidupan, bahwa kehidupan hanyalah tempat untukku mengumpulkan bekal. Bekal yang dipersiapkan untuk perjalananku yang sesungguhnya bernama kematian. Yang bukanlah akhir dari perjalanan melainkan awal dariku melangkahkan kaki di tanah yang abadi bernama Akhirat.

Hari ini aku tersentak cukup hebat bahwa aku begitu dekat dengan kematian, suatu hal yang pasti dari apapun didunia dan aku takut bekalku belum cukup untuknya…



Maulida Hadry Sa’adillah Lie
Fii Ardhillah,Bumi Allah
17 Jumadi Tsani 1432 H/ 20 Mei 2011 M
Ketika aku merasakan aroma kematian itu begitu mewangi dibanding kesturi


Perempuan Itu Adalah Ibuku



Tulisan ini sudah lama saya tulis dan publish di account Facebook saya, tulisan khusus yang saya dedicated kan khusus untuk wanita terbaik didunia, Ibu..


Dua puluh tahun aku mengenalnya.. Dua puluh tahun aku hapal senyumannya, dua puluh tahun aku ingat suaranya, dua puluh tahun aku bersamanya.. Seorang wanita yang tidak sempurna namun terbaik di dunia, Ibu..begitu aku memanggilnya.

1 Oktober seorang bayi dilahirkan dengan keadaan sehat, Ia menangis karena harus meninggalkan tempat ternyaman yang pernah ia miliki sebelumnya, rahim seorang Ibu. Lalu dekapan hangat menyelimutinya, tangan lembut itu memeluknya, seolah-olah mengatakan "Inilah tempat ternyamanmu sekarang sayang". Tangan Ibu, memberinya kekuatan..

Menginjak usia 5 tahun, Ia diantar ke sebuah taman kanak-kanak, sang Ibu hanya menungguinya sebentar, tersenyum dibalik jendela ruang kelas, lalu pergi. Ia berfikir bahwa Ibu tidak sayang kepadanya, dan iri melihat Ibu teman-temannya menunggu mereka di luar kelas. Kemudian Ia tahu bahwa Ibunya mengajarinya sebuah kemandirian.

Duduk dikelas satu sekolah dasar Ia menemukan beberapa kesulitan. Membaca. Memang teman-teman sekelasnya pun belum ada yang lancar membaca, namun tidak bagi keluarganya. Kedua kakaknya begitu cepat mempelajari bahasa, baik membaca dan menulis. Ibu kemudian mengajarinya dengan extra, tak jarang, Ia menangis karena lagi-lagi ia berfikir ibu tak menyayanginya. Kemudian ia tahu Ibu mengajarinya sebuah kedisiplinan. Kemudian dia menjadi yang terdepan di kelas. Memiliki kemampuan dalam menguasai banyak bahasa, berbicara didepan umum, dan kemampuan menarik orang lain dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan.

Seorang adik lahir ketika ia berusia 4 tahun. Ia menyayanginya, namun tak jarang mengganggunya. Ketika ia berusia 7 tahun, Ia bermain dengan sang adik, dan tidak sengaja membuat tangan adiknya yang baru berumur 3 tahun terjepit. Adiknya terluka, Ibu kemudian menghukumnya untuk tidak keluar dari rumah, Ia menangis dan merasa Ibu benar2 tak sayang padanya. Kemudian ia tahu Ibu mengajarinya agar tidak berbuat Lalai. Salah satu hal fatal yang tidak boleh ia lakukan jika kelak ia telah menyandang gelar sebagai profesi hukum.

Usia 9 tahun, Ibu meninggalkannya demi melanjutkan studinya di luar. Dan nenek mengambil alih pengasuhannya. Sering ia merasakan kehilangan, karena kasih sayang orang lain meski itu adalah Ibu dari Ibunya, tak akan pernah sama dengan kasih sayang Ibunya. Kemudian ia tahu Ibu berusaha mati-matian untuk selesai dengan cepat demi anaknya, tak jarang Ibu tak pernah tidur demi mengerjakan tugas dengan cepat. Ditengah2 kesibukannya Ibu menulis berlembar-lembar surat untuk anak-anaknya, mengatakan Ibu baik2 saja, berbohong kepada anaknya, karena Ibu sebenarnya sedang kesusahan dan sangat letih.

Usia 12 tahun, ia dikirim ke pesantren, mengikuti jejak kedua kakaknya yang juga telah lebih dulu mendapat pendidikan disana. Setiap seminggu sekali ibu menjenguknya di pesantren. Membawa berplastik-plastik makanan buatannya. Barang-barang kebutuhan untuknya dan kedua kakaknya. Ibu selalu membuat makanan2 itu sendiri. Jika ia meminta apapun, Ibu tak pernah membelinya ia membuatnya sendiri. Setiap hari jumat Ibu datang, masih mengenakan pakaian kerjanya, Ibu berjalan tertatih2 membawa begitu banyak bawaan dikedua tangannya yang kecil. Berusaha menutupi wajah lelahnya dengan sebuah senyuman. Namun sang anak tidak membalasnya dengan sambutan hangat, Ia merengut ketika melihat Ibu melupakan satu barang pesanannya. Senyum Ibu lenyap, lalu kemudian mengatakan "Besok, Ibu datang lagi" dan berusaha tersenyum kembali. Kemudian ia tahu Ibu mengajarkannya tentang Keikhlasan.

Suatu hari ketika ia masih mondok di pesantren, Ia sakit. Salah satu kakaknya menelpon Ibu dirumah. Ibu sangat cemas, Ibu punya kebiasaan menderita sakit perut setiap kali ia khawatir tentang anaknya. Jam 11 malam, Ibu datang ke pesantren, menembus hawa malam yang dingin dan lupa bahwa Ibu punya asma. Mengitari jalan raya yang sepi tanpa peduli keselamatannya. Hanya satu keinginannya, melihat anaknya baik-baik saja. Sesampai di pesantren, Ibu tidur disamping si anak. Ibu tidak tidur di kasur, karena itu adalah kamar pondok yang sempit dan terisi dengan dua belas santriwati lainnya yang berdesakan, sedang kasur yang bisa dipakai untuk mereka berdua hanyalah kasurnya, Ibu rela tidur diatas papan yang berlubang-lubang. Padahal ketika itu ada dua buah selimut, namun Ibu tak memakai satupun untuknya, Ibu rela kedinginan demi menjaga anaknya agar tetap hangat dengan dua selimut. Kemudian ia tahu Ibu mengajarkannya tentang Pengorbanan.

Usia 16 tahun. Ia telah duduk dibangku sekolah menengah atas di sebuah sekolah umum negeri. Prestasi demi prestasi kemudian diukirnya. Provinsi hingga nasional, namun Ibu tak pernah memujinya. Ibu hanya mengatakan " Prestasi seperti itu adalah kewajaran sebagai pelajar". Ia kecewa, dan mengganggap Ibu tak pernah menghargai dan bahagia dengan prestasi-prestasinya. Ketika itu ia tidak tahu bahwa Ibu lah yang selalu berdoa untuk kemenangannya di setiap sepertiga malam. Ibu yang tidak pernah memujinya membuatnya terus ingin berprestasi lebih banyak lagi hingga sampai Ibu memujinya. Kemudian Ia tahu Ibu mengajarinya tentang Motivasi.

Usia 18 tahun. Ia lulus disebuah perguruan tinggi negeri paling bergengsi di Jakarta. Karena Ia sakit Ibu tidak mengizinkannya pergi. Ia sedih dan merasa menyesali mengapa ia dalam keadaan sakit ketika itu. Ibu hanya menatapnya dengan lembut, mengatakan bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuknya selama ini. Kemudian Ia tahu Ibu mengajarinya Bersyukur.

Ibu kemudian pergi demi penelitian doktornya di luar negeri. Ia kemudian mengambil alih tugas Ibu dirumah. Mulai dari mengurus rumah hingga berbelanja kebutuhan bulanan, padahal Ia juga harus menunaikan kewajibannya menuntut ilmu dan mengajar diluar. Ia selalu merasa berat dan lelah. Kemudian Ia sadar seperti inilah perasaan Ibu setiap hari.

Usia 19 Tahun. Ibu menyuruhnya untuk memilih Hukum di Universitas Negeri dikotanya sebagai pilihan di tes masuk perguruan tinggi. Ia tidak setuju, karena Ia benar-benar tidak menyukai hukum. Ia benci hukum karena pencitraan hukum sudah begitu buruk di masyarakat. Dan Ia ingin kuliah di luar kota. Tapi Ibu bilang Ibu butuh dia untuk menemani Ibu dirumah, karena Kedua kakaknya telah berkuliah diluar kota, Papa yang juga sibuk, dan Adik laki-lakinya yang masih kecil agak sulit untuk diajak berbagi. Namun, demi hanya sekedar membuat Ibunya berhenti memintanya, maka ia pun melingkari pilihannya di tes masuk UMB, Hukum. Ia berfikir toh Ini bukan prioritas, toh tidak mungkin lulus karena Ia pun tak pernah belajar untuk persiapan. Dan, Toh target utamanya ada di SNMPTN nanti. Ketika itu sore hari, Ia membaca namanya tertulis Lulus di layar laptop. Ibu begitu senang, tersenyum, lalu memeluknya dan mengatakan "Selamat". Baru kali ini ia mendengar Ibunya mengucapkan selamat kepadanya, prestasi bergengsi yang selama ini Ia dapat bahkan tak pernah membuat kata-kata itu keluar dari lisan Ibunya. Ia menangis senang dan terharu, Kemudian Ia bertekad Jalan ini lah yang akan ia ambil.

Pernah sebelumnya Ia meminta Ibu mengizinkannya kuliah di Mesir dengan beasiswa, Namun Ibu mengatakan jadikan agama sebagai kehidupan. Yang bisa didapat tidak hanya di bangku formal, namun dimana saja, karena Ilmu Allah itu tidak terbatas hanya dengan tulisan dan hapalan. Ayat-ayat kauniyahNya tersebar di penjuru bumi. Kuasai bidang dunia dan akhirat bersamaan, sehingga kelak muslim lah yang menguasai keduanya. Dan pesan itu terus dipegangnya, berusaha menggenggam erat agama di tangan kanannya, dan dunia ditangan kirinya. Kemudian ia tahu Ibu mengajarinya tentang Tawazun (Keseimbangan).

Sebelumnya pun ia pernah mengutarakan niatnya ke Ibu untuk memilih bidang studi bahasa sebagai pendidikan utama formalnya. Kemudian Ibu mengatakan Jadikan bahasa sebagai Plus, sebagai kelebihannya disamping Ia memiliki ilmu utama lainnya. Hari-hari berlalu, perkataan Ibu benar, dengan bahasa sebagai plus Ia mendapat  tempat lebih baik di bidang formalnya. Karena sedikit yang menguasainya. Kemudian Ia tahu Ibu mengajarinya tentang Skills.

Ibu selalu membawa bekal dari rumah ke kantornya. Ketika berbelanja Ibu akan selalu membeli barang yang mendapat potongan harga. Ibu tak pernah memberikan barang-barang dengan mudah kepada anaknya. Sehingga ketika dewasa tidak satupun anak-anaknya yang merasa iri ketika melihat yang lain memiliki benda bermerk, mahal, dan sedang trend di masyarakat. Mereka tidak pernah meminta, karena Ibu berhasil mendidik mereka arti sebuah kesederhanaan.

Pernah suatu hari, Ibu pergi kesebuah negara. Dalam pemeriksaan di Airport Ibu ditanyai dengan nada kasar, dibentak, karena dianggap TKW dari Indonesia. Ibu hanya tersenyum, menunjukkan berkas2 kepada petugas, dan petugas tersebut hanya terdiam lalu meminta maaf karena Ia baru mengetahui Ibu disana sebagai peneliti dan dianggap sebagai tamu negara. Lagi-lagi Ibu hanya tersenyum dan tidak marah setelah diperlakukan kasar dan tidak terhormat. Kemudian ia tahu Ibu mengajarkannya tentang Kesabaran.

Ketika Ia dirawat dirumah sakit, suatu saat ia menangis karena tinggi panasnya membuatnya kesakitan. Ibu kemudian mencium keningnya dan mengatakan " Semua baik-baik saja, Allah akan menyembuhkan". Ia kemudian tahu Ibu mengajarkannya tentang Kekuatan.

Ibu itu adalah Ibuku, Ibu yang melahirkan, dan membesarkanku dengan cintanya. Ibu yang mengajarkan begitu banyak pelajaran dengan caranya sendiri. Yang selalu tersenyum meski hatinya dilukai, yang selalu mengulurkan tangannya ketika anak-anaknya jatuh, yang selalu mendukung anaknya dengan apapun yang Ia miliki. Hingga tak jarang ia harus berusaha keras bekerja, dan tidak jarang jatuh sakit. Hanya demi senyuman kebahagian anak-anaknya.


Yaa Rahman..
Sesungguhnya penjagaanMu adalah sebaik-baiknya penjagaan, maka kumohon yaa Rabb, jagalah Ibu karena jiwa ini tak bisa terus menjaganya.
Berkahilah Umurnya, berikanlah ia selalu kesehatan, dan jadikanlah hatinya tetap kepadaMu..
Jadikanlah ia sebagai hamba yang dapat meminum air dari telaga kautsarMu..
Bariskanlah ia di shaf terbaik dengan Rasulullah, sahabat dan mukmin lainnya..
Pakaikanlah ia jubah terbaik dari emas, hingga ia akan bangga di akhirat nanti..
Beratkanlah timbangan kebaikannya di yaumul mizan kelak..
Mudahkanlah Ia melewati jembatan shirotul mustaqimMu..
Ampunilah dosa-dosanya, haramkanlah tubuhnya dari panasnya nerakaMu..
Masukkanlah Ia ke surgaMu dari pintu manapun yang ia sukai..
Jadikanlah ia sebagai hamba pilihanMu yang dapat melihat wajahMu kelak..

Cintailah ia yaa Rabb, karena sungguh Ia begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri..
Ameen yaa Rahman..




Ibu, seberapa sempurnanya kehidupan orang lain, Bagiku kehidupanku lebih sempurna karena ada engkau yang selalu menemani, Selamat Hari Ibu, Bu..

**Kelebihan Ibu begitu banyak, namun Ibu memiliki satu kesalahan yang sangat Fatal, Yaitu
    IBU SELALU MELUPAKAN KESALAHAN ANAK-ANAKNYA**

Dedicated To: The Best Mom Ever In The World (MY MOM)
16 Muharram 1432 H/ 22 Desember 2010 M
When I feel My Life Full With Mother's Love